Kulit keriput yang membungkus tulang-tulang wajah ayahku kasar dan kaku. Dia duduk seperti tak berdaya di kursi di ruang tengahku sambil menatap ke luar melalui jendela. Aku takut kepada sosok laki-laki ini. Dia dapat membuatku merunduk cukup dengan tatapan marahnya yang terasa menusuk.
Sewaktu aku berdiri dalam bayangan, ada bagian dari diriku yang ingin agar aku pergi,menyerah, mengaku kalah. Namun, bagian lain dalam diriku ingin aku mencoba sekali lagi. Aku berdoa, "Tuhan, aku mendambakan hubungan yang lebih baik dengan ayahku dan kesempatan sudah hampir habis. Cuma sebuah keajaiban yang akan membuatnya berubah." Ada sesuatu dalam diriku yang tiba-tiba terbuka, maka aku menambahkan, "Tuhan, seandainya ini kehendakMu, gunakanlah aku sebagai alat untuk membawa ayahku kembali kepadaMu."
Diam-diam aku berjalan dan duduk di kursi di seberang ayahku. Dia terkesan tidak menyadari kehadiranku. Aku menelan ludah sebelum mengulurkan tangan untuk menggenggam tangannya yang seperti kadal. Dia tersentak, berpaling kepadaku dengan pandangan kosong, kemudian menarik tangannya dan membuang muka.
Aku bersandar di kursiku sambil menghela napas dalam-dalam. Ketrampilanku merawat orang jompo mungkin satu-satunya yang bisa dia hargai, maka aku mulai berkata, "Penyakit paru-paru obstruktif kronis memang berat. Kebanyakan pasien harus memerangi rasa takut mereka sendiri. Sedikit saja mereka merasakan penyempitan pada paru-paru, mereka menjadi panik dan kepanikan itu mengantar mereka ke serangan asma yang parah."
Dia menggumamkan sebuah ungkapan kutukan yang tidak keruan sambil tetap menatap ke jendela.
Aku mengamati wajahnya yang cekung sambil mengumpulkan keberanian. "Dad takut?" tanyaku.
Dia mendengus dan tetap mengarahkan perhatiannya ke jendela.
Kelihatannya mustahil. Tidak ada yang dapat meluluhkan lapisan luarnya yang seperti baja. Tetapi karena tidak ada ruginya mencoba, aku melanjutkan : "Barangkali aku dapat menolong."
Dia menggunakan sudut matanya untuk memandangiku dengan curiga. "Bagaimana kau dapat menolong?"
"Aku sudah menggunakan cara ini pada diri sendiri dan berhasil."
"Apa menurutmu kau semacam tukang sihir?" tukasnya dengan ketus.
Kata-katanya menyakitkan. Dia agak menyorongkan tubuhnya ke depan dan kelihatan ada sedikit kilatan cahaya di matanya. Dia terkesan ingin mendengar lebih banyak.
Aku membersihkan tenggorokanku. "Dad dapat melepaskan rasa takut Dad kepada Tuhan melalui doa."
Kilatan cahaya itu lenyap dan kepalanya berpaling lagi ke arah jendela.
Mulutku terasa seperti penuh dengan bola kapas sewaktu aku melanjutkan. "Ketika aku memerlukan bantuan untuk mengatasi rasa takut, aku mengajak Tuhan duduk di sampingku lalu aku menceritakan rasa takutku kepadaNya. Kemudian kuulurkan kedua tanganku dan kulepaskan rasa takutku ke tangan Tuhan. Aku memintaNya berbuat sesuatu untukku, sesuatu yang tak mampu kukerjakan sendiri, dan Dia melakukannya. Dia mengambil rasa takut itu dariku."
Ayahku menggeser duduknya, lalu melipat tangannya.
"Beberapa pekan kemudian ketika situasi yang serupa terjadi, rasa takut itu sudah hilang. Aku sengaja menguji Tuhan dengan berusaha keras memunculkan kembali rasa takut itu. Namun, aku tidak berhasil mendatangkannya kembali. Rasa takut itu sudah pergi."
Dia tidak menggerakkan ototnya sama sekali, kecuali dadanya yang naik turun
"Dad, Tuhan dapat berbuat yang sama untuk Dad."
Ayahku mencengkram lengan kursinya, duduk dengan tegak dan menatap ke dalam mataku. Pipinya berkedut-kedut-- dan ada ekspresi yang menusukku! Seperti pengecut, aku mengerut ketika dia sedang marah.
Setelah dewasa, setiap kali aku mencoba berbincang-bincang tentang Tuhan dengannya, ayahku selalu meninggalkanku. Apakah dia akan begitu lagi? Rasa takutku terus bertambah dan aku pun ingin kabur. Namun kali ini, aku menerapkan teknikku sendiri dengan mengulurkan tangan dan menjatuhkan rasa takutku ke tangan Tuhan. Setelah mendapatkan kembali kekuatanku, aku melanjutkan. "Aku tahu ini berhasil, tapi Dad harus melakukannya sendiri. Aku tak dapat melakukannya untuk Dad."
"Buat apa, tidak akan berhasil untukku! Tuhan tidak menjawab doa-doaku!"
Bicaraku menjadi lirih, "Apa maksud Dad dengan 'Tuhan tidak menjawab doa-doaku'?"
"Ketika dulu tinggal di pertanian, kami telah bertahun-tahun mengalami kerugian pada ladang kami karena kekeringan, hama serangga, dan cuaca. Kami menjadi sangat miskin. Pada tahun 1954 panen sedang paling baik di antara yang pernah kulihat. Aku sedang membajak ketika awan gelap terbentuk di barat dan ternyata bergerak ke arah kami. Aku berdoa semoga kami tidak terkena badai." Suaranya terdengar terbata-bata pada kata-kata yang terakhir, setelah itu pandangannya ke jendela lagi.
Aku menunggu.
"Lihat,"serunya ke arah jendela. "Tuhan tidak menjawab doa-doaku. Tuhan tidak pernah menemaniku."
Ayahku telah hidup tanpa Tuhan dalam hidupnya sejak aku betusia sembilan tahun. Yang memberatkanku, bersamaan dengan saat ayahku melepaskan Tuhan, aku justru menemukan Tuhan dan memulai perjalanan spiritualku. Hatiku terus mengkhawatirkan ayahku. Aku ingin memeluknya dan memegangnya. Aku ingin menjadi jendela yang terus menjadi pusat perhatiannya.
"Dad," lanjutku! "aku tidak ingat pernah kelaparan atau telanjang. Aku tidak ingat pernah kekurangan apa pun. Maka bagiku, Tuhan memperhatikan kita."
Dia mengangkat bahunya.
Akumelanjutkan, "Apa yang Dad pikir akan terjadi seandainya Tuhan telah menjawab doa-doa Dad seperti yangDad minta?
"Huh," dengusnya,masih ke arah jendela. "Kami dahulu bisa terbebas dari utang."
"Dan setelah itu apa?"
Dia menoleh sebentar untuk menatapku sekilas, sambil berkata "Kau bodoh."
Aku tidak memasukkan celaan itu ke dalam hati."Apa yang akan terjadi seandainya Dad tetap di pertanian?"
"Bencana kekeringan dan badai bertahun-tahunlagi, mungkin"
Suaranya melemah menjadi seperti berbisik. "Kemudian akhirnya menjadi miskin kembali."
"Lihat. Menurutku Tuhan menjawab doa-doa Dad, tetapi Dia menjawab dalam cara yang tidak Dad duga. Dia mengirim Dad ke sebuah arah baru yang memungkinkan Dad menjadi kaya. Dad bukan hanya hanya peternak yang sukses, Dad yang terbaik."
Dahi ayahku berkerut dan dia masih cemberut sewaktu menggeser duduknya di kursi dan sekali lagi mengarahkan pandangannya ke jendela.
Setelah sekian menit hening, menjadi jelas bahwa percakapan kami telah berakhir. Aku agak membungkuk di kursiku.
Ayahku tiba-tiba memegang lenganku erat-erat. "Berdoalah bersamaku, "katanya sambil menyelipkan tangannya ke sela-sela tanganku.
Doa adalah adukan semen yang membuat rumah kita tetap tegak. Doa memperbesar hati sampai mampu menampung karunia Tuhan sendiri. ~ Ibu Teresa ~
Bukan karena kita berdoa maka Tuhan menjawab; doa kita sudah dalam jawaban Tuhan.
~ Richard Rohr ~








0 komentar:
Posting Komentar